Persekitaran Web Patuh Muslim.. Ketahuiselanjutnya

Sifat Pemimpin Ala Rasulullah Dalam Penyebaran Agama Islam Sebagai Motivasi Kaum Muslim

Four muslim men praying at dawn
© Viktoriia Panchenko | Dreamstime.com
Four muslim men praying at dawn

Sebagai Nabi terakhir dalam sejarah penyebaran Agama Islam, kepemimpinan Rasulullah sepantasnya dijadikan panutan bagi umat Muslim di dunia. Nabi Muhammad telah melakukan 3 peranan kepemimpian semasa hidupnya menurut karya Imam Al-Qarrafi pada tahu 684 Hijriah. Peranan tersebut di antaranya sebagai pendakwah dan pemimpin umat Islam, sebagai pemimpin di masyarakat dan sebagai hakim penengah dalam setiap permasalahan di masyarakat. Sifat kepemimpinan Rasulullah juga terpancar dari cara beliau membawa keluarganya sebagai suami yang baik bagi istri-istri dan anak-anaknya.

Kesadaran Dalam Diri Bahwa Setiap Insan Adalah Pemimpin

Setiap insan manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya kelak di akhirat. Hal ini tertuang pada hadith Riwayat Bukhari dan Muslim. Tak hanya itu, seorang pemimpin di tengah-tengah kaum akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan seorang suami, istri, asisten rumah tangga, anak laki-laki dan semua manusia akan ditanyai perihal kepemimpinannya di dunia.

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa seorang kepala negara  tidak boleh semena-mena terhadap rakyatnya. Seorang pemimpin seharusnya menyadari bahwa semakin besar amanah yang dipikul, maka akan semakin berat pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Hal ini nampaknya dipahami betul oleh Nabi Muhammad. Sementara sebagai khalayak umum, sebaiknya menuruti apa yang pimpinan sampaikan selama tidak menyimpang dari jalan Allah. Anjuran ini juga telah dituliskan di Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 59.

Menghadapi Permasalahan Dengan Jalur Diskusi

Sifat Rasulullah lainnya dalam menyikapi suatu permasalahan adalah menyelesaikannya dengan diskusi atau musyawarah. Musyawarah dilakukan agar dapat memutuskan suatu permasalahan secara bersama-sama. Musyawarah yang notabene dilakukan diskusi interaktif juga dapat membuka sudut pandang dari pemikiran lain. Sehingga ide-ide akan pemecahan masalah akan dapat bervariasi.

Perihal musyawarah tertulis pada Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 159. Ayat tersebut mengajak para pemimpin untuk bersikap lemah lembut dan akibat dijauhi oleh khalayak umum bila berbuat kasar. Allah juga menghimbau agar memaafkan, bermohon ampun dan melakukan musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan. Selepas itu barulah kita sebagai umat muslim bertawakal kepada Allah atas segala usaha dan tekad yang telah dikerjakan.

Mengutamakan Kejujuran Dalam Mengemban Amanah

Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi yang bergelar Al-Amin yang berarti dapat di percaya. Ini dibuktikan dalam salah satu riwayat dalam sejarah Agama Islam saat Rasulullah dipercayakan Siti Khodijah dalam menjajakan dagangannya. Rasulullah berpegang teguh pada kejujuran dan melakukan perdagangan yang sesuai konsep syar’i. Kejujuran dalam berdagang sudah selayaknya menjadi panutan umat Muslim dalam penerapan kehidupan sehari-hari.

Tidak Membeda-Bedakan Status Sosial Masyarakat

Nabi Muhammad SAW dikenal tidak pernah membeda-bedakan status sosial, umur, jenis kelamin, agama, suku dan kekayaan masing-masing. Beliau dengan rahmat Allah, menurut sebuah riwayat, bersedia membantu membawakan barang seorang nenek tua yang tidak menyukai Nabi. Nenek tersebut tidak mengetahui bahwa pemuda yang di sampingnya adalah Rasulullah. Sepanjang perjalanan, nenek tua tersebut menjelek-jelekkan Nabi Muhammad. Di akhir perjalanan, akhirnya Rasulullah mengaku bahwa beliaulah Nabi Muhammad. Nenek tersebut amat terharu dengan kebaikan Rasulullah kemudian bersyahadat.

Fathonah Dalam Mengatur Strategi Berdakwah Hingga Berperang  

Sifat fathonah dalam diri Nabi Muhammad SAW diartikan sebagai sosok yang memiliki kecerdasan dalam berpikir. Untuk menjadi seorang pemimpin, diperlukan kepintaran dalam hal mengatur segala sesuatunya dengan sempurna. Entah itu cerdas dalam mengatur perekonomian negara, strategi perang, strategi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan lain-lain. Rasulullah menerapkan sikap fathanah di kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam menentukan sistem perdagangan atau bisnis. Beliau berbisnis namun juga sekaligus memberi manfaat seperti membantu ekonomi orang lain.

Dalam strategi ketahanan saat perang pun, Rasulullah sangat cerdik dalam mengaturnya. Rasulullah mengatur tatanan perang, merencanakan, mempersiapkan hingga mengobarkan semangat juang pasukan perang. Misalnya, ketika terjadinya Perang Badar dalam sejarah penyebaran Agama Islam, Rasulullah mengatur segala sesuatunya hingga bala tentara Muslim memperoleh kemenangan.

Ingin berkata sesuatu?

Sila berhubung!